«

Jan 20

Google Bisa Atur Pemenang Pilkada?

Maryland's iSchool copyright

Maryland’s iSchool copyright

 

“Google’s search algorithm can easily shift the voting preferences of undecided voters.” — Robert Epstein, senior research psychologist at the American Institute for Behavioral Research & Technology, and the former editor-in-chief of Psychology Today

Hasil riset ini mencengangkan: Algoritma ternyata bisa digunakan untuk mengatur hasil pemilu.

Artinya, siapa yang bakal menang di Pemilu atau Pilkada, ternyata bisa “diubah”, sesuai kemauan yang berkepentingan. Caranya dengan “menyalah-gunakan”fungsi algoritma. Persisnya, dengan cara merekayasa nilai pembobotan di rumus algoritma rahasia. Termasuk kepada algoritma yang digunakan di mesin pencari Google. Atau di platform jejaring perkawanan Facebook. Rekayasa algoritma tersebut, dilakukan dalam kurun waktu tertentu; kepada kelompok khalayak tertentu; yang memang menjadi target bidikan, kepentingan tertentu, untuk dieksploitasi.

Hasil Riset yang dihela dua peneliti American Institute for Behavioral Research and Technology, yakni Robert Epstein dan Ronald E. Robertson tadi juga membuktikan: bahwa pengaruh pengaturan via algoritma tadi, tak cuma berdampak mempengaruhi persepsi pemilih perorangan atau individual. Tapi juga bisa memanipulasi logika kelompok.

Termasuk misalnya digunakan untuk memanipulasi persepsi kelompok swing voters. Menggiring pilihan para undecided people. Dan mendistorsi pilihan kaum floating mass. Agar orientasi pilihan pemilih yang masih ragu tersebut, bisa diarahkan. Dibikin tak sadar, telah memilih kandidat pasangan calon (paslon) tertentu, seperti yang dimaui pihak-pihak yang berkepentingan.

Dugaan pengaturan hasil pemilu yang melibatkan Google, menarik disimak sebagai pelajaran.

Pemilih yang ragu, dikerjain pakai algoritma

Seperti sudah sama diketahui, hasil akhir pemilu, ternyata justru ditentukan oleh pilihan pemilih, yang belum menentukan pilihan. Istilah keren-nya, mereka ini adalah swing voters. Para kaum undecided people. Termasuk kalangan floating mass. Alias kelompok massa mengambang. Yang ragu memilih. Atau yang belum menentukan pilihan. Karena masih bingung.

Menyadari ini, maka demi bisa mengubah hasil pemilu, Google lantas secara khusus membidik para pemilih yang masih ragu tadi.

Terhadap target bidikannya tadi, Google sengaja melakukan rekayasa algoritma. Sehingga timeline jejaring media sosial milik individu dan kelompok target yang dibidik tadi,  kebanjiran informasi distortif. Agar opsi mereka bisa digiring; persepsi mereka diarahkan; dan mereka dipengaruhi, memakai informasi yang telah disortir dan atau dipilihkan. Informasi sortiran tersebut, lebih menonjolkan keunggulan sang kandidat tertentu, yang memang ingin dimenangkan oleh Google.

Dengan cara tersebut –tanpa menyadari telah dimanipulasi–  akhirnya para swing voters ini, akan mengarahkan orientasi pilihannya: memilih opsi pilihan yang (sebenarnya sudah) dipilihkan oleh Google.

Pengaruh para undecided people dalam menentukan hasil akhir pemilu, misalnya terbukti, saat penyelenggaraan Referendum Brexit dan Pemilihan Presiden di AS. Sikap para swing voters ini, disebut-sebut adalah yang menyebabkan dua hajatan pemilu tadi, hasil akhirnya mengejutkan: berlawanan dari dugaan para pakar dan peneliti.

Dalam kasus Brexit, akhirnya British benar-benar exit dari Uni Eropa. Sementara di ajang Pilpres AS, Hillary Clinton yang lebih diunggulkan, justru kalah unggul dari Donald Trump.

Kandidat yang dimenangkan Google adalah yang gaya kepemimpinannya menguntungkan. Atau yang kelak saat sudah menjabat, mau diajak bekerjasama. Untuk mengkondisikan, agar peraturan, ketentuan, atau perundangan yang disahkannya kelak, bisa membuat bisnis Google jadi lebih dominan dan semakin monopolistik. Serta yang mau membantu membuat keuntungan bisnis Google, berlipat-lipat dengan cepat.

Memanfaatkan SEME: Search Engine Manipulation Effect

Cara pemanipulasi hasil pemilu tersebut, popular diistilahkan SEME. Akronim dari the Search Engine Manipulation Effect. Hasil studi tentang bagaimana efek manipulasi algoritma tadi, sudah dimuat di The Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS). Isinya menarik. Bisa menjadi bahan perenungan ke depan.

Pada dasarnya, SEME adalah pemanipulasian algoritma Google, dengan tujuan merekayasa hasil pencarian di search engine. Algoritma diatur sedemikian rupa oleh Google, agar menyortir hanya informasi yang dianggap cocok. Yang dinilai menguntungkan. Atau sesuai dengan tujuan: menguntungkan posisi kandidat tertentu. Dan membuatnya lebih berpeluang untuk menang.

Yang mengagetkan, potensi pemanfaatan algoritma untuk mengatur hasil akhir pemilu, ternyata bukan sekadar teori. Bukan cuma wacana. Tapi benar-benar sudah kejadian.

Para peneliti meyakini itu, ketika melakukan kajian atas hasil pemilu di India tahun 2014. Di ajang itu, Narendra Modi, terpilih menjadi Perdana Menteri India. Hasil temuan studi tersebut mencengangkan: patut  diduga, pemilu India 2014, melibatkan manipulasi via SEME.

Silakan singgahi link ini untuk memeriksanya. Hasil